Saturday, September 22, 2007

Kesimpulan puasa dimusim panas

Sebelumnya terima kasih sekali atas pendapat teman-teman tentang postinganku sebelumnnya: Kuatkah puasa di musim panas?

Kita memang harus berpikir positif untuk siap menjalani ibadah puasa dimusim panas nanti. Insya Allah aku akan berusaha sekuat mungkin. Tapi yang aku maksud di sini adalah: "adakah keringanan waktu berbuka bagi orang-orang yang tinggal di daerah yang terkena musim panas dengan siang hari yang panjang?" Perlu digaris bawahi di sini bahwa puasa dimusim panas aku bukan mempermasalahkan panasnya, tapi mempermasalahkan lamanya waktu puasa dari imsak sampai iftar. Di musim panas, kalau di daerahku matahari tenggelam sekitar jam 9 malam. Itu belum apa-apa kalau dibandingkan di daerah Arctic, matahari bisa tenggelam sekitar tengah malam!

Memang segala sesuatu yang sudah digariskan Allah SWT harus diterima, dihayati, dijalani dan tidak perlu ragukan atau ditanyakan lagi. Seperti misalnya kita dilarang makan babi. Di Al Qur'an tidak dijelaskan kenapa Allah melarangnya. Mungkin banyak yang penasaran kenapa, tapi aku sih menurut aja, toh tidak berakibat apapun.

Sekarang tentang berpuasa. Di Al Qur'an, Allah dengan jelas memerintahkan kita untuk melakukannya. Tapi tidak dijelaskan tata cara berpuasa bagi orang-orang yang tinggal di daerah tersebut di atas. Seperti aku sebut sebelumnya: Allah SWT tidak akan membiarkan umatnya menderita karena puasa. Padahal manusia ada batasnya. Nah untuk kasus seperti ini aku penasaran sekali dan pengen tau jawabannya karena aku juga akan mengalami hal yang sama walaupun tidak separah mereka yang tinggal di daerah Arctic (Alaska, Finlandia, Swedia, Norwegia, Canada, dll).

Setelah search sana-sini, akhirnya aku menemukan ini: bahwa keterlibatan manusia diperlukan apabila tidak jelas harus bagaimana bersikap dalam situasi tertentu. Al Qur'an memberikan tuntunan hidup manusia tetapi tidak semuanya mencakup kasus-kasus khusus dalam praktek kehidupan sehari-hari. Itulah mengapa di Islam ada yang namanya Fiqh (Jurisprudence). Di Fiqh kita bisa menemukan jawaban-jawaban untuk beberapa kasus khusus seperti misalnya kasus tersebut di atas. Yaitu: bagi orang-orang yang tinggal di daerah tersebut boleh berpuasa dengan jumlah waktu puasa yang sama dengan di Mekah atau Medinah. Pendapat lain mengatakan bahwa jumlah waktu berpuasa mereka disamakan dengan jumlah waktu berpuasa di daerah terdekat mereka.

Di bawah ada beberapa link yang berkaitan dengan masalah di atas:
1. http://en.wikipedia.org/wiki/Fiqh
2. http://geography.about.com/od/physicalgeography/a/longestday.htm
3. http://www.thelocal.se/discuss/viewtopic.php?p=143295
4. http://worldub.blogspot.com/2007/09/spirit-of-fasting-in-islam.html
5. http://my.opera.com/Religion.Islam/blog/index.dml/tag/Ramadan
6.http://islamqa.com/index.php?ref=5842&ln=eng&txt=prayer%20in%20summer

Selanjutnya terserah kepada orang-orang tersebut termasuk aku untuk mengikuti atau tidak mengikuti pendapat di atas. Karena pada dasarnya hanya Allah SWT yang tahu kalau pendapat ini benar atau salah sehingga tidak ada seorangpun yang bisa menghakimi.

Semoga hal ini ada manfaatnya bagi teman-teman, setidaknya sebagai pengetahuan. Mohon maaf kalau ada yang kurang karena aku bukan ahli agama. Peace ;)